SEKILAS CERITA
DOSEN ATAU TEMAN CURHAT?
DAN PELAJARAN YANG SAYA DAPAT
Tebak aja yang mana Bapak Dosennya
“Lanjut
Kuliah ya Kak” begitulah kata orang tuaku. Seketika di pikiranku muncul “Haduh
belajar lagi, haduh males, dosennya ntar galak lagi, duh pelajaran di smk aja
udah ribet apalagi kuliah” otak terpenuhi pikiran-pikiran negative semacam itu.
Seperti istilah yang sering dikatakan orang jawa “Sambat sadurunge ngelakoni”.
Pada akhirnya aku jadi mahasiswa baru yang akan belajar, belajar dan belajar
lagi, menimba ilmu setinggi-tingginya seperti pepatah “Tuntutlah ilmu sampai ke
negeri china”. Setelah mengikuti sosialisasi dan pembagian materi, aku sedikit
terkejut karena akan bertemu dengan mata kuliah “Pancasila” di semester 1 dan
“Kewarganegaraan” di semester 2, sejenis pelajaran PKN semasa disekolah.
Sungguhlah aku tidak menyukai mata kuliah itu, karena selama disekolah materi
selintas itu sangat membosankan dan juga tugasnya yang begitu menumpuk.
Diminggu selanjutnya aku mulai mengikuti matakuliah dengan tertib yang diawali
dengan perkenalan, kontrak kuliah dan peraturan-peraturan tambahan lainnya
selama mata kuliah dimulai. Kontrak kuliah itu bergantung pada kesepakatan antara
mahasiswa dengan dosen. Inilah kalimat yang diucapkan saat awal petemuan “Baik
anak-anak sebelum kita memulai kuliah, kita akan menentukan kontrak kuliah kita
terlebih dahulu”.
Hari
demi hari terus kuperhatikan dosen secara begantian. Memperhatikan tanpa bosan,
mengamati bagaimana sifat dari masing-masing dosen pengajarku ini. Ada yang
sifatnya serius tegang, ada yang serius tapi rileks. Hingga tiba saat mata
kuliah yang kuanggap sangat membosankan ini, Pancasila dan Kewarganegaraan.
Awalnya saya merasa senang karena dosen tak kunjung dating, hingga tiba saatnya
ada seorang bapak yang masuk ke kelas tetapi mengaku sebagai asisten dari dosen
saya Pak Edi Purwanto atau yang biasa dipanggil Pak Edi. Beliau sebenarnya
berniat ingin mengerjai kami dengan samarannya itu, tetapi kelas kami menyadar
bahwa beliau lah Pak Edi. Kami semua dibuatnya tertawa diawal perkuliahan,
beliau juga bercerita bahwa saat beliau menyamar dikelas lain berhasil, tetapi
tidak dengan kelas kami. Salah satu ciri khas Pak Edi adalah saat bertemu
diluar jangan panggil beliau dengan sebutan bapak.
Jika
didefinisikan Pak Edi ini bisa dikatakan sebagai salah satu dosen favorit bagi
anak jurusan kami. Pembawaan beliau saat memberi materi serius tapi santai dan tidak
tegang dan penjelasan beliau yang mudah ditangkap dengan mudah membuat kami
bisa menerima materi tersebut. Pak Edi ini adalah sesosok dosen yang bisa
dianggap sebagai teman sebaya. Beliau selalu berusaha agar bagaimana muridnya
bisa nyaman dengan pembelajaran yang beliau berikan. Dan beliau tidak pernah
membebankan tugas-tugas yang susah dan ribet untuk dicerna. Sistem UTS dan UAS
yang dirubah dengan membuat video kritikan ataupun artikel mengenai tradisi,
keagamaan, dsb.
Bisa
dikatakan Pak Edi ini adalah dosen yang gokil abis, setiap ada presentasi
berlangsung, disela-sela nya pasti mahasiswa dipersilahkan untuk menampilkan
bakatnya seperti melawak alias stand up comedy dan menyanyi sambil main music. Itulah cara beliau
untuk mencairkan susasana di kelas agar perkuliahan pada hari itutidak terasa
membosankan. Setiap pertemuan kuliah, beliau tidak monoton untuk membahas
sesuai dengan materi. Terkadang kami semua diajak untuk berdiskusi mengenai
Indonesia dan kontroversinya, Beliau membuka luas pola pikir kami mengenai
Negara Indonesia ini. Banyak hal yang ingin aku ketahui didalamnya dan banyak
pula jawaban yang sudah aku terima dari pertanyaan tersebut. Beliau bukan
termasuk sosok yang peduli dan focus pada mahasiswa yang memiliki nilai bagus
dalam pengerjaan tugasnya. Sekiranya beliau akan lebih menghargai nilai yang
pas-pasan tapi itu hasil karyanya sendiri dan yang paling penting adalah apakah
mahasiswa itu bisa memahami setiap materi yang beliau berikan. Beliau merupakan
dosen yang tidak membedakan mahasiswanya, beliau bisa memposisikan apakah
mahasiswa ini mampu atau tidak.
Pak
Edi selalu berpesan “yang penting kalian paham”. Dari situ lah saya bersemangat
lagi walau ilmu yang saya miliki tidak begitu luas dan saya menerapkan kata
motivasi untuk diri saya sendiri “ boleh saja saya menggali ilmu
sebanyak-banyaknya, tapi tak akan ada gunanya bila saya tidak bisa paham”, saya
mengubah mindset untuk belajar banyak itu dengan bukan sekedar membaca, tetapi
juga dengan dipahami. Kunci dari kesuksesan pembelajaran mata kuliah ini bergantung
pada toleransi dari masing-masing. Jika kamu ingin dihargai maka hargai orang itu
dalam kondisi apapun, begitupun sebaliknya. Selebihnya saya beserta teman-teman
ingin berterima kasih banyak kepada Pak Edi selaku dosen dan juga teman curhat
bagi kami, yang telah memberi wawasan yang luas terhadap kami dan juga telah
membuat kami sadar akan pola pokir kami yang salah. Kami juga ingin meminta
maaf jika selama perkuliahan kadang suka bikin jengkel. Sekian, salam hangat
dari PBS-C untuk Pak Edi (qonaahnya pak hehe).



Komentar
Posting Komentar